Kapolri ajak akademisi rawat NKRI dari potensi perpecahan

Padang (ANTARA) – Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian mengajak akademisi untuk merawat Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dari pengaruh dan potensi perpecahan yang selalu mengintai.

“Keberagaman ini merupakan nikmat tuhan yang paling besar bagi bangsa Indonesia, meski beragam namun masih tetap bertahan hingga sekarang dengan segala kekurangannya,” kata dia di depan ribuan peserta Konvensi Nasional Pendidikan Indonesia (Konaspi) IX di Padang, Kamis.

Menurut dia hidup berdampingan dengan toleransi yang tinggi perlu dirawat dari pengaruh dan potensi yang akan memecah belah.

Ia mengatakan Indonesia terdiri dari 714 suku dan 1.100 bahasa dibanding dengan Afganistan yang hanya tujuh suku namun perang saudara hingga 40 tahun lebih.

“Ini tentunya kita bertanya, nikmat tuhan yang mana lagi yang harus kita dustakan,” ujarnya.

Ia mengatakan berbagai perbedaan yang besar itu mengandung potensi konflik, namun dari sekian banyak perbedaan yang mengandung potensi konflik, agama mengandung potensi konflik paling besar, karena atas nama tuhan.

“Dengan kondisi seperti ini perlu dicarikan jalan keluar agar agama ini tidak menjadi potensi konflik,” kata dia.

Ia mengatakan tantangan ke depan adalah bagaimana menjaga stabilitas keamanan terutama memasuki tahun politik.

Selain itu akademisi juga diharapkan akan memberikan sumbangan bidang ekonomi dan pendidikan untuk memajukan Indonesia.

“Dengan meningkatnya edukasi dan ekonomi maka Indonesia akan dipenuhi sumber daya manusia yang produktif. Bonus demografi pada 2045 ini akan menjadi modal besar untuk menjadi negara yang kuat,” ungkapnya.

Sementara Rektor UNP Ganefri mengatakan kunjungan Panglima TNI dan Kapolri ini merupakan sejarah bagi UNP dan Sumbar. Apalagi UNP juga tengah menggelar Konvensi Pendidikan Nasional Indonesia (Konaspi) ke-IX yang dihadiri oleh 12 LPTK se-Indonesia.

“Isu-isu yang kuat diduga akan memecah belah diharapkan akan dapat disampaikan di LPTK yang hadir,” kata dia.

Pewarta: Mario Sofia Nasution
Editor: Nurul Hayat
COPYRIGHT © ANTARA 2019